Setiap “wujud” sesungguhnya semua kosong. Tak berisi. Dari yang takbersubstansi, lahirlah segala sesuatu yang bersubstansi. Dari Yang Tak Berwujud, lahirlah segala wujud. Dari Ketiadaan, muncullah Keberadaan. Karena kekosongan itu, karena ketiadaan itu, ada Keberadaan. Kemanusiaan diri kita sangat tergantung pada kekosongan di dalam diri. Bila diri kita penuh, tidak ada ruang kosong, kita tidak bisa berpikir jernih. Tindakan kita kacau, pandangan kita keliru. Ucapan kita salah melulu. Dalam keadaan terlalu penuh, manusia kehilangan kemanusiaannya. Bila alam bawah sadar atau sub-conscious masih memenuhi diri kita, kita belum cukup manusia. Masih tanggung. Ada yang 10% manusia, ada yang 15%. Kita belum 100% manusia. Berkurangnya beban alam bawah sadar, sampah sub-conscious, menciptakan kekosongan dalam diri. Kemudian kita menjadi bambu, kosong. Menjadi seruling bambu. Dalam tradisi Sufi, khususnya Tarekat Moulvi, bunyi seruling bambu digunakan untuk mengantar kita kealam ke...
"Melupakan Diri Sejati anda adalah kematian sejati; mengingatnya adalah kelahiran kembali"