Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pangestu

Gambaran Lukisan Kereta Kuda - Untuk mengingatkan tugas hidup manusia yang terpenting

Badan jasmani diumpamakan sebagai kereta. Nafsu 4 macam (kehendak) diumpamakan sebagai kuda. Angen-angen diumpamakan sebagai sais. Roh diumpamakan sebagai penumpang kereta. Suksma Sejati adalah yang menguasai kereta, kuda, sais dan penumpang kereta. Suksma Kawekas adalah yang menjadikan semuanya itu. Watak "kuda" (nafsu hewani) dapat menjadi baik dan penurut (ialah taat kepada ajaran keutamaan), karena keterampilan "sang sais" (angen-angen) dalam mengendalikan dan membimbingnya. Sebaliknya jikalau "sang sais" kurang teguh dan kurang waspada (tidak berhati-hati) dalam memegang kendali, "kuda" akan lari lepas tak terkendalikan menerjang kesusilaan batin. Watak roh yang asli, yang suci murni sifatnya, lalu akan ternoda oleh kotoran dari nafsu hewani yang terlepas bebas. Akhirnya manusia lalu akan diliputi oleh kegelapan, sehingga akan menjalankan tindakan yang berlawanan dengan hukum keutamaan, kesusilaan dan keadilan. Gambar...

Keadaan Manusia Sesudah Mati (Menurut Pangestu)

Menurut Pangestu ada beberapa macam kematian manusia. Pertama, mati secara tidak sempurna, yaitu badan kasarnya rusak, tetapi badan halusnya atau jiwanya tetap hidup terus dan melayang-layang didalam alam halus atau alam kafiruna. Kedua, mati secara sempurna. Kesempurnaan mati ini adalah tercapainya persatuan antara Roh Suci dengan Suksma Sejati, pada saat badan jasmaninya menghembuskan napas yang penghabisan alias mati biasa dan siap untuk ditanam. Ada juga manusia yang telah bertunggal dengan Sang Suksma Sejati, atau telah mencapai kesempurnaan hidup, dan disebut telah mati selama hidup. Roh Suci orang ini telah meleburkan diri dalam Suksma Sejati, hingga tidak lagi diperlukan angen-angen untuk mengingat-ingat intisari syahadat. Suksma Sejati sendirilah yang langsung mempergunakan alat-alat pelaksana, seperti tangan, kaki, mulut dan sebagainya, karena angen-angen sudah hilang, perasaan dan keinginan juga ikut hilang. Apa yang kita sebut sehari-hari jiwa, malahan sudah tid...