Badan jasmani diumpamakan sebagai kereta. Nafsu 4 macam (kehendak) diumpamakan sebagai kuda. Angen-angen diumpamakan sebagai sais. Roh diumpamakan sebagai penumpang kereta. Suksma Sejati adalah yang menguasai kereta, kuda, sais dan penumpang kereta. Suksma Kawekas adalah yang menjadikan semuanya itu. Watak "kuda" (nafsu hewani) dapat menjadi baik dan penurut (ialah taat kepada ajaran keutamaan), karena keterampilan "sang sais" (angen-angen) dalam mengendalikan dan membimbingnya. Sebaliknya jikalau "sang sais" kurang teguh dan kurang waspada (tidak berhati-hati) dalam memegang kendali, "kuda" akan lari lepas tak terkendalikan menerjang kesusilaan batin. Watak roh yang asli, yang suci murni sifatnya, lalu akan ternoda oleh kotoran dari nafsu hewani yang terlepas bebas. Akhirnya manusia lalu akan diliputi oleh kegelapan, sehingga akan menjalankan tindakan yang berlawanan dengan hukum keutamaan, kesusilaan dan keadilan. Gambar...
"Melupakan Diri Sejati anda adalah kematian sejati; mengingatnya adalah kelahiran kembali"