Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Guru

Guru Palsu

Pada awalnya seorang yang bijak merupakan pembimbing seorang murid. Segera setelah memungkinkan, guru ini melepaskan si murid, sebagai orang yang memperoleh hikmahnya sendiri, dan kemudian ia melanjutkan kerja dirinya. Para GURU PALSU dalam sufisme, sebagaimana dimana saja, tidaklah sedikit. Maka para Sufi dihadapkan pada situasi aneh, sebab sementara GURU PALSU bisa jadi tampak seperti asli (karena ia berusaha keras untuk berpenampilan seperti yang diinginkan muridnya), sedangkan Sufi sejati seringkali tidak seperti apa yang dikira oleh Salik yang belum terlatih dan belum bisa membedakan. Rumi mengingatkan, “Jangan menilai seorang Sufi sebagai seseorang yang bisa dilihat, sobat. Berapa lama, seperti seorang anak kecil, engkau hanya lebih menyukai kacang dan roti?” GURU PALSU sangat memperhatikan penampilan, dan mengetahui bagaimana membuat seorang murid mengira bahwa ia adalah orang besar, bahwa ia memahaminya, bahwa dirinya memiliki rahasia-rahasia besar yang yang akan ...

Guru

Keharusan melalui seorang guru adalah kebiasaan saja. Tarikan Tuhan adalah lebih bernilai: Al’arif Billah Maulana Syekh Muhammad bin Ahmad Al Jauhary rahmatullah ‘alaihi mengatakan, “Berpegangan yang teguh kepada Allah adalah suatu keharusan untuk tetap mengikuti dan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjahui segala larangan-Nya. Bukanlah suatu keharusan bahwa untuk sampai kepada Allah harus dengan wasithoh/perantaraan guru (syekh) sebagai umumnya disangka oleh sementara kalangan Shufi. Tentang wasithoh guru itu hanyalah sekedar kebiasaan saja. Allah sampaikan seseorang hambanya kepada-Nya atas kehendak-Nya sendiri, dengan beberapa macam tarikan (jadzabaat)”. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Satu tarikan dari beberapa tarikan Tuhan, tidak akan dapat disamakan dengan amal-amal jin dan manusia” Memang benar bahwa keharusan melalui seorang guru dalam hal menuntut ilmu tasawuf adalah kebiasaan. Tetapi dalam banyak hal, ungkapan-...