Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Atisha

Dharmakirti Svarnadvipi

“Ah, Indonesia. You know, kami, orang-orang Tibet, memiliki hubungan yang erat sekali dengan Indonesia.” – Demikian kata Yang Mulia Dalai Lama kepada saya. Ketika itu, beliau berkenan menerima saya dengan rombongan diruang kerjanya. Lalu beliau bercerita, “Dulu, you know, di Indonesia, di Svarnadvipa, ada seorang guru besar. Namanya, Dharmakirti Svarnadvipi. Dan salah seorang muridnya, Atisha, datang ke Tibet untuk menyebarkan ajaran tentang Bodhichitta (Kesadaran Murni). Atisha sendiri adalah seorang guru besar dan very important part of Tibetan culture and religion.” Saya dengar bahwa seribu tahun yang lalu, Yavadvipa (Jawa) dan Svarnadvipa (Sumatra) pernah menjadi pusat pendidikan rohani. Dan para siswa pun berdatangan dari manca Negara untuk mendalami latihan-latihan meditasi dan sebagainya. Salah seorang Master yang terkenal sangat “selektif” dalam hal peneriman murid adalah Dharmakirti. Sering sekali, ia akan “menciptakan situasi”, sehingga para murid yang dianggapnya b...

Pertahankan Pola Pikir Yang Ceria

Atisha sedang bicara dengan mereka yang sudah melampaui mind—yang sudah menjadi meditative. Kepada mereka Atisha menganjurkan, “Pertahankan pola pikir yang ceria.” Mereka yang belum melampaui mind, yang belum meditative, mereka yang belum pernah mencapai tingkat Kesadaran Murni, dimana mind terlepaskan, tidak akan bisa mempraktekkan hal ini. Ditengah keramaian dunia ini, bagaimana anda bisa mempertahankan “ketenangan” diri anda? Ditengah ketidakwarasan dunia ini, bagaimana anda bisa mempertahankan “kewarasan” diri anda? Ditengah kegelisahan, kekhawatiran dan kesengsaraan, bagaimana anda bisa mempertahankan “keceriaan” diri anda? Dengan mind yang anda miliki sekarang, mustahil anda bisa tenang, waras dan ceria. Kalaupun bisa, hanya untuk sesaat. Anda tidak bisa mempertahankannya. Sebelum kerusuhan bulan Mei tahun 1998, banyak sekali misionaris Taiwan yang datang ke Indonesia untuk menyebarkan apa yang mereka sebut “ajaran Tao”. Setelah kerusuhan, mereka semua kembali ke Ne...

Ada Tiga Prinsip Yang Perlu Diperhatikan

Ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan. Ya, hanya tiga prinsip, yaitu: Pertama: Kesadaran. Dan yang bisa menghasilkan kesadaran, hanyalah “meditasi”. Meditasi berarti “mengurusi diri”. Sebelum diri sendiri terurus, jangan mengurus orang lain. Dalam ajaran Sang Buddha, prinsip ini disebut Hinayana—sesuatu yang mendasar sekali. Secara harfiah, Hinayana berarti “wahana kecil”. Dalam hal ini, harus diartikan sebagai “langkah awal”, yang paling utama. Kedua: Kasih Sayang. Setelah melampaui mind lewat meditasi, baru berbagi rasa. Kasih sayang merupakan buah meditasi. Tanpa meditasi, kasih sayang tidak akan pernah tumbuh. Tanpa meditasi, yang tumbuh hanyalah napsu birahi, paling banter cinta. Kasih tidak akan pernah tumbuh. Seseorang yang belum meditatif, belum kenal kasih. Ini yang disebut Mahayana—kesadaran yang meluas. Secara harfiah, Mahayana berarti “wahana besar”. Saya mengartikannya sebagai “langkah yang lebih besar”. Ketiga: Kebijakan. Dengan hati yang mengasi...

Kembangkan Rasa Syukur

Semboyan yang indah sekali—kembangkan “rasa syukur”. Salah satu pemberian Islam yang sangat universal dan dapat menunjang terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri anda adalah ucapan “Alhamdullilah”. Terima kasih Allah, terimakasih Tuhan. Dan tidak hanya terhadap Allah, tetapi terhadap siapa pun juga. Biasakan diri anda mengucapkan “Terima kasih” dan tiba-tiba hidup anda akan berubah. Ada yang menghujat anda, ada yang mencaci-maki anda, ada yang mengatakan anda tidak benar—balas dia dengan ucapan “Terima kasih”. Selesai sudah masalahnya. Jangan diperpanjang, jangan berdebat. Lihatlah dari sudut pandang yang lain, yang berbeda. Taruhlah anda “benar”. Kemudian tolok ukurnya apa? Harus ada yang “tidak benar”, sehingga “kebenaran” anda bisa muncul! Yang “tidak benar” itu sesungguhnya membantu memunculkan “kebenaran” anda. Sangat beralasan bagi anda untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. Lagi pula, setiap kali anda mengucapkan terima kasih sesungguhnya anda melepaskan mind an...

Practice the five strengths, the quintessence of heart instructions

Atisha sudah mulai bicara tentang heart instructions—latihan-latihan yang berkaitan dengan “hati”. Dalam arti kata lain, latihan-latihan yang menunjang “perkembangan rasa”, yang bahkan disebut the quintessence—intisari latihan-latihan tersebut. Untuk itu ada lima hal, yang harus dipraktekkan. Atisha tidak tertarik dengan teori. Atisha bukan seorang filsuf. Ia tidak membuat disertasi untuk meraih gelar doktor. Ia tertarik dengan “implementasi”—bagaimana mempraktekkan spiritualitas. Apa pula lima hal, yang disebut “Lima kekuatan” itu? 1 : Kebulatan Tekad: Jangan melakukan sesuatu dengan setengah hati. Keberhasilan seseorang sangat tergantung pada tekad yang kuat. Tekad yang kuat tidak berarti anda memikirkan  “hasil akhir” melulu. Tekad yang kuat berarti anda “melakoni” peran anda dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Tidak perlu memikirkan hasil akhir. Cukup memainkan peran anda dengan baik. Itu saja. 2 : Pengenalan Diri: Kekuatan kedua ini tidak...

Untuk mempertahankan keadaan no-mind atau Kasunyatan, pahamilah kebingungan yang disebabkan oleh empat kaya

Sebelum menyelami Atisha lebih dalam lagi, jujurlah dengan diri sendiri – apakah anda ingin “mempertahankan” keadaan no-mind? Apabila anda masih menghitung laba-rugi, apabila anda masih mempertanyakan “tujuan” meditasi, sesungguhnya anda belum ingin “mempertahankan” Kasunyatan. Kasunyatan tidak bertujuan. Burung-burung berkicau tanpa tujuan. Kembang-kembang pun mekar tanpa tujuan. Sungai-sungai yang mengalir pun tidak bertujuan. Lautkah tujuan mereka? Untuk mengisi selokan-selokan kotor lagi? Untuk mengalir sebagai sungai lagi? Mind yang masih bingung, pikiran yang masih liar, selalu mencari “tujuan”. Bahkan sebenarnya mind itu selalu mengejar tujuan. Selama mind masih memperbudak anda, selama itu pula anda akan selalu membutuhkan “motivasi” dan mengejar tujuan. Dan kebingungan mind ini disebabkan oleh 4 hal, oleh 4 keadaan atau kaya. Kita harus melampaui keempat-empatnya: Pertama, Dharma kaya – inilah sumber masalah. Dharma adalah “penggerak” alam semesta. Roda dharma b...

Apabila kelima masa gelap itu tiba, inilah cara mengubahnya menjadi jalan Bodhi

“When the five dark ages occur, this is the way to transform them into the path of Bodhi. This is the essence of the amrita of the oral instructions, which were handed down from the traditions of the sage of Svarnadvipa. Having awakened the karma of previous training and being urged on by intense dedication, I disregarded misfortune and slander and received oral instructions on taming ego fixation. Now, even at death, I will have no regrets”. Geshe Chekawa (1101 – 1175) yang menyalin dan mengulas ajaran Atisha ini mengakhiri ulasannya dengan dua bait diatas. Bait-bait ini indah sekali. Bait-bait ini menunjukkan bahwa Chekawa tidak hanya menyalin dan mengulas, tetapi juga menghayati dan melakoni ajaran-ajaran Sang Acharya, Atisha. Dengarkan apa yang ia katakan: Apabila kelima masa gelap itu tiba, inilah cara mengubahnya menjadi jalan Bodhi. Inilah intisari amrita ajaran lisan yang disampaikan oleh Sang Pujangga dari Svarnadvipa. Bait pertama dulu. Bait yang i...

Meneliti sifat kesadaran yang belum lahir dalam diri kita

Examine the nature of unborn awareness! Baru menyelami meditasi sedikit saja, biasanya kita sudah sombong. Kita sudah menganggap remeh mereka semua yang tidak “melakukan” meditasi. Keangkuhan kita, kesombongan kita, ego kita, arogansi kita—semua itu menunjukkan betapa tidak sadarnya kita. Kesadaran awal adalah bahwa kita belum sadar. Atisha menganjurkan agar kita “meneliti sifat kesadaran yang belum lahir dalam diri kita” Atisha menganjurkan agar kita menyadari bahwa “kesadaran belum tumbuh dalam diri kita”. Kesadaran masih merupakan potensi yang terpendam. Kita berpotensi menjadi Buddha, mencapai Kesadaran Kristus, tetapi belum menjadi, belum mencapai. Dan kita harus menyadari hal itu. Jangan membohongi diri. Jangan menipu diri. Kalau belum jadi Buddha, ya belum jadi. Kalau belum mencapai Kesadaran Kristus, ya belum mencapai. Tidak perlu mengada-ada. Dalam ayat berikut ini, Atisha memberikan cara untuk melakukan evaluasi diri. Atisha menunjukkan cirri-ciri orang yang sudah...

Belajar Bersama Atisha - Apa Itu Kasih

Pada suatu sore ia mengagetkan para siswanya, “Selama ini, kita bicara dan bicara tentang Kasih. Padahal tidak seorang pun diantara kalian yang tahu persis  Kasih itu apa? Pengetahuan kalian selama ini, hanyalah pengetahuan pinjaman. Kalian hanya mendengar dariku. Kalian belum pernah mengalaminya sendiri. Kasih merupakan puncak dari segala macam pengalaman. Kasih merupakan kembang kesadaran, buah pencerahan. Selama kalian belum sadar, belum cerah, belum pernah mencicipi keindahan alam nirwana, dimana pikiran terlampaui, kalian tidak akan pernah mengenal Kasih, mengalami Kasih. Yang kamu sebut Kasih sebenarnya baru nafsu birahi, baru cinta. Kasih bukan rasa. Kasih bukan emosi. Kalaupun aku menggunakan istilah ‘MENGALAMI KASIH’ atau ‘MENGENAL KASIH’, sungguh itu karena keterbatasan bahasa. Kasih tidak dapat dijelaskan. Seseorang harus mengalaminya sendiri”. “Dan bagaimana cara mengalaminya? Bagaimana seseorang bisa membedakan, yang mana nafsu birahi, yang mana cinta, dan y...