Langsung ke konten utama

Karma

KARMA : Sebuah kata Sansekerta yang secara harfiah berarti “perbuatan”. Kata ini digunakan untuk merujuk maksud dan perbuatan yang terkait dengan masa lalu dan memengaruhi masa kini.

Buddha telah mengatakan bahwa, “Setiap makhluk dihalang-halangi oleh gejolak pikiran, dan mereka hanya bisa disucikan dengan cara menyucikan pikiran”.

Ketika kita menderita, kita biasanya mencari jalan keluar dari penderitaan yang kita alami. Kalau kita menganggap penderitaan itu bersumber dari tindakan atau pikiran yang telah lalu, maka kita akan mencari tindakan, penilaian atau doa yang bisa mengeluarkan kita dari karma penderitaan tersebut. Tapi seluruh tindakan, penilaian dan doa ini hanya akan memutar roda samsara. “Gejolak Pikiran”, kata Vimalakirti, “selalu mengikat kita”. Tindakan, penilaian dan doa pun tetap mengikat pikiran. Selama kita masih yakin pada “sesuatu”, maka akibat dari keyakinan tersebut tetap akan lahir. Akibat ini pada gilirannya juga akan melahirkan akibat-akibat lain. Setiap hal muncul dari hal lainnya, dan segala sesuatu akan kembali pada dirinya lagi.

Roshi Yasutani berkata, “Ketika situasi dan kondisinya tepat, maka sesuatu akan muncul atau terjadi”.

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah “sesuatu” yang dapat muncul atau terjadi ketika situasi dan kondisinya tepat? Sesuatu disini bukanlah sesuatu yang sebab-sebab yang melahirkannya bisa saya hentikan atau saya ubah, sehingga saya dapat mengatur apakah “sesuatu” itu dapat muncul atau tidak sesuai keinginan saya. Selama saya masih yakin bahwa saya punya sesuatu, maka dia pasti akan melahirkan akibat, dan oleh karena itu akan terikat dengan situasi dan kondisi. Kita tidak bisa lepas dari hal ini.

Vimalakirti kemudian bertanya, “Upali, hakikat pikiranmu yang sudah terbebaskan apakah masih bisa kotor (tidak suci) ?”

“Hakikat pikiran” yang sudah terbebaskan adalah kekosongan, dan kekosongan tidak bisa kotor atau bercampur dengan pikiran, perasaan dan sensasi. Dia bagaikan cermin, yang tidak bisa terbakar oleh api yang terpantul di dalamnya, tidak peduli betapa berkobarnya api yang ada di depannya.

Apakah yang ada pada karma sehingga membuatnya begitu kuat? Yang ada pada karma hanyalah karma. Karmalah yang memberi karma kekuatan. Karma adalah sesuatu yang memberi sesuatu itu kekuatan. Selama sesuatu itu masih ada, karma tetap akan punya kekuatan.

Vimalakirti mengatakan bahwa kemurnian pikiran adalah ketidakadaan pikiran dan imajinasi, dan ketiadaan diri adalah inti dari pikiran. Tidak ada yang diciptakan, dihancurkan atau dikekalkan; hal-ihwal bagaikan ilusi sulap, awan dan cahaya; segala sesuatunya mengalir dan mengambang, tidak ada yang tetap walaupun hanya sekejap; hal-ihwal bagaikan mimpi, halusinasi dan delusi; hal-ihwal bagaikan bayangan bulan di permukaan kolam, bagaikan bayangan di dalam cermin.

Dari buku Zen and the Sutras — Jalan Menuju Pencerahan
Albert Low adalah guru dan direktur the Montreal Zen Center. Lahir di Inggris pada 1928. Dia mulai mempraktikkan Zen pada 1961 dan pada 1966 menjadi murid Roshi Philip Kapleau. Dan menerima transmisi penuh pada 1986.

* Zen : adalah kata Jepang yang didasarkan pada ideogram China ch’an, yang merupakan aliterasi dari kata Sansekerta dhyana.

Komentar